Rangkuman, Soal Dan Pembahasan Gelombang Cahaya
Rangkuman Materi Gelombang Cahaya
Bab 2 pada kelas 12 semester 1 yaitu membahas wacana gelombang cahaya. banyak yang akan kita pelajari pada materi ini. salah satunya interferensi celah ganda, interferensi celah tunggal dan difraksi kisi. kalo udah pada ga sabar yuk langusng bahas.
Interferensi Cahaya
Interferensi cahaya ialah adonan dua gelombang atau lebih. Interferensi terjadi kalau ada dua atau lebih berkas sinar yang bergabung.
1.Interferensi cahaya pada celah ganda
Interferensi cahaya terjadi alasannya ialah adanya beda fase cahaya dari kedua celah tersebut.
Interferensi maksimum
d sin θ = m λ
d sin θ = m λ
Interferensi minimum
d sin θ = (m – ½ ) λ
d sin θ = (m – ½ ) λ
Keterangan:
d = jarak antar celah (m)
θ = sudut deviasi
m = contoh interferensi (orde) (m = 0, 1,2,…)
λ = panjang gelombang yang berinterferensi (m)
d = jarak antar celah (m)
θ = sudut deviasi
m = contoh interferensi (orde) (m = 0, 1,2,…)
λ = panjang gelombang yang berinterferensi (m)
jika interferensi terjadi antara jarak jelas ke-m menuju jelas pusat, rumusan sebagai berikut:
jika interferensi yang terjadi antara jarak gelap ke-m menuju jelas pusat, rumusannya sebagai sebagai berikut:
keterangan:
y = jarak terang/gelap ke-n menuju jelas sentra (meter)
L = jarak layar dari celah (meter)
y = jarak terang/gelap ke-n menuju jelas sentra (meter)
L = jarak layar dari celah (meter)
2. Interferensi pada selaput tipis
Terjadi pada sinar yang dipantulkan eksklusif dan sinar yang dipantulkan sehabis dibiaskan
interferensi maksimum :
interferensi minimum :
2nd = mλ
2nd = mλ
Keterangan:
n = indeks bias
d = tebal lapisan tipis
m = bilangan lingkaran (0,1,2,3..)
λ = panjang gelombang cahaya dipakai (m)
n = indeks bias
d = tebal lapisan tipis
m = bilangan lingkaran (0,1,2,3..)
λ = panjang gelombang cahaya dipakai (m)
3. Difraksi Cahaya
Difraksi atau pelenturan cahaya yaitu ketika suatu cahaya melalui celah maka cahaya sanggup terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mempunyai sifat ibarat cahaya baru
1. Celah Tunggal
Untuk garis gelap ke-m terjadi jika:
Jika sudut deviasi θ kecil, sehingga persamaan di atas menjadi
Keterangan:
d = lebar celah (m)
θ = sudut difraksi
m = orde difraksi (m = 1,2,3….)
λ = panjang gelombang cahaya (m)
y = jarak antara garis gelap dengan jelas sentra (m)
L = jarak celah dengan layar (m)
d = lebar celah (m)
θ = sudut difraksi
m = orde difraksi (m = 1,2,3….)
λ = panjang gelombang cahaya (m)
y = jarak antara garis gelap dengan jelas sentra (m)
L = jarak celah dengan layar (m)
jika cahaya monokromatik dilewatkan ke celah tunggal maka akan terlihat contoh garis gelap dan jelas secara bergantian letaknya. Jika difraksi yang terjadi akhir adanya lubang kecil yang berbentuk lingkaran akan menjadikan contoh berupa lingkaran jelas dan gelap secara bergantian. Lingkaran gelap pertama dengan sudut θ dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
D = diameter lubang (m)
θ = sudut resolusi
ym = daya urai
D = diameter lubang (m)
θ = sudut resolusi
ym = daya urai
2. kisi difraksi
Celah beragam yaitu celah-celah sempit yang tertata rapi dengan jarak yang cukup erat disebut kisi difraksi. Hubungan banyaknya celah dengan jarak antar celah
Jika terjadi interferensi maksimum
d sin θ = m λ
d sin θ = m λ
Jika terjadi interferensi minimum
d sin θ = (m – 1/2) λ
d sin θ = (m – 1/2) λ
keterangan:
N = banyaknya celah tiap satuan panjang
d = jarak antara celah (m)
θ = sudut deviasi
m = orde (n= 0,1,2,3…)
λ = panjang gelombang sinar
N = banyaknya celah tiap satuan panjang
d = jarak antara celah (m)
θ = sudut deviasi
m = orde (n= 0,1,2,3…)
λ = panjang gelombang sinar
4. Polarisasi cahaya
Polarisasi ialah bencana pengurangan intensitas alasannya ialah berkurangnya komponen-komponen gelombangnya. Polarisasi cahaya hanya sanggup dialami gelombang transversal. Polarisasi cahaya sanggup terjadi akhir adanya pemantulan, pembiasan, absorbsi selektif, dan hamburan.
1. Polarisasi alasannya ialah pembiasan
jika sinar pantul gerak lurus sinar bias, sinar pantul terpolarisasi:
Keterangan:ip = sudut polarisasi = sudut tiba yang menghasilkan sinar pantul terpolarisasi
n1 = indeks bias medium asal sinar
n2 = indeks bias medium yang dituju sinar
2. Polarisasi alasannya ialah Absorbsi Selektif
Jika intensitas cahaya mula-mula (l0), intensitas cahaya terpolarisasi vertikal yang diteruskan oleh polarisator haruslah mempunyai intensitas l1 dan dituliskan:
Cahaya dengan insensitas l1 yang tiba menuju analisator yang mempunyai intensitas l2, berdasarkan aturan mallus sanggup dihubungkan dengan persamaan berikut
I2= I1 cos2θ = 1/2 I0 cos2θ
Dengan θ sebagian sudut antara sumbu analisator dengan sumbu polarisator.
Contoh Soal dan Pembahasan Gelombang Cahaya
Cahaya tiba pada salah satu sisi prisma sama sisi dengan sudut tiba 45°. Jika indeks bias prisma √2, maka sudut deviasinya adalah
A. 30°
B. 45°
C. 58°
D. 60°
E. 75°
A. 30°
B. 45°
C. 58°
D. 60°
E. 75°
Pembahasan
Pembiasan pada prisma dengan data:
i1 = 45°
np = √2
β = 60° (segitiga samasisi)
δ =....
Sudut deviasi pada prisma dirumuskan
δ = i1 + r2 - β
i1 dan β telah diketahui datanya, r2 belum diketahui. Dari pembiasan pada permukaan I dan penerapan Snellius:
nu sin i1 = n2 sin r1
1(sin45°) = √2 sin r1
1(1/2√2) = √2 sin r1
sin r1 = 1/2
r1 = 30°
Pembiasan pada prisma dengan data:
i1 = 45°
np = √2
β = 60° (segitiga samasisi)
δ =....
Sudut deviasi pada prisma dirumuskan
δ = i1 + r2 - β
i1 dan β telah diketahui datanya, r2 belum diketahui. Dari pembiasan pada permukaan I dan penerapan Snellius:
nu sin i1 = n2 sin r1
1(sin45°) = √2 sin r1
1(1/2√2) = √2 sin r1
sin r1 = 1/2
r1 = 30°
Menentukan i2:
r1 + i2 = β
30 + i2 = 60
i2 = 30°
Menentukan r2 dari pembiasan pada bidang II
np sin i2 = nu sin r2
√2 sin 30° = 1(sin r2)
√2 (1/2) = sin r2
sin r2 = 1/2 √2
r2 = 45°
Sehingga kembali ke rumus sudut deviasi pada prisma:
δ = i1 + r2 - β
= 45 + 45 - 60°
= 30°
r1 + i2 = β
30 + i2 = 60
i2 = 30°
Menentukan r2 dari pembiasan pada bidang II
np sin i2 = nu sin r2
√2 sin 30° = 1(sin r2)
√2 (1/2) = sin r2
sin r2 = 1/2 √2
r2 = 45°
Sehingga kembali ke rumus sudut deviasi pada prisma:
δ = i1 + r2 - β
= 45 + 45 - 60°
= 30°
Soal No. 2
Sebuah prisma dengan sudut pembias 12,6° dengan indeks bias materi 1,5. Bila sebuah cahaya monokromatis mengenai bidang pembias prisma tersebut maka besar sudut deviasi minimumnya adalah....
A. 6,3°
B. 10,3°
C. 12,3°
D. 15,3°
E. 18,3°
Sebuah prisma dengan sudut pembias 12,6° dengan indeks bias materi 1,5. Bila sebuah cahaya monokromatis mengenai bidang pembias prisma tersebut maka besar sudut deviasi minimumnya adalah....
A. 6,3°
B. 10,3°
C. 12,3°
D. 15,3°
E. 18,3°
Pembahasan
Sudut deviasi minimum pada prisma untuk sudut pembias lebih kecil dari 15° dan prisma berada di udara:
δmin = (n - 1)β
= (1,5 - 1)12,6°
= 6,3°
Sudut deviasi minimum pada prisma untuk sudut pembias lebih kecil dari 15° dan prisma berada di udara:
δmin = (n - 1)β
= (1,5 - 1)12,6°
= 6,3°
Soal No. 3
Sinar monokromatis yang tiba dari udara masuk ke bidang pembias prisma yang indeks biasnya 1/2 √10. Jika sudut pembias prisma ialah 37° maka sudut deviasi minimumnya adalah...(sin 37° = 3/5)
A. 17°
B. 19°
C. 21°
D. 23°
E. 25°
Sinar monokromatis yang tiba dari udara masuk ke bidang pembias prisma yang indeks biasnya 1/2 √10. Jika sudut pembias prisma ialah 37° maka sudut deviasi minimumnya adalah...(sin 37° = 3/5)
A. 17°
B. 19°
C. 21°
D. 23°
E. 25°
Pembahasan
Data;
β = 30°
np = 1,5
δmin =.....
Menentukan sudut deviasi minimum pada prisma untuk sudut puncak (sudut pembias) besar:
sin 1/2 (37°) sanggup dicari dulu dengan memakai rumus sudut tengahan, kalau sin 37° = 3/5 maka cos 37° = 4/5:Data;
β = 30°
np = 1,5
δmin =.....
Menentukan sudut deviasi minimum pada prisma untuk sudut puncak (sudut pembias) besar:
Dengan mengambil nilai yang konkret saja, nilai sin dari sudut setengah dari 37° adalah
Sudut deviasi minimum:
diperoleh sudut deviasi minimum ialah 23°














0 Response to "Rangkuman, Soal Dan Pembahasan Gelombang Cahaya"
Posting Komentar