Pengertian Persepsi
A. Pengertian Persepsi
Persepsi yaitu sekumpulan tindakan mental yang mengatur impuls-impuls sensorik menjadi suatu contoh bermakna. Persepsi merupakan dasar belajar, berpikir, dan bertindak, dan inovasi mengenai proses-proses ini seringkali ditempatkan dalam penggunaan praktis. Sebuah pemahaman mengenai persepsi sanggup juga membantu seseorang berpikir lebih kritis mengenai pengalamannya (Wade & Tavris, 2007).
Persepsi merupakan proses yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian sanggup dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan acara yang terintegrasi dalam diri individu (Moskowitz dan Ogel dalam Walgito, 2003).
Baca juga:
Persepsi sangat bermacam-macam antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang sama. Seseorang sanggup mempunyai persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama. Dengan adanya perbedaan individu maka stimulus yang diterima siswa pada dikala pembelajaran akan dipersepsi berbeda baik secara afeksi maupun kognisi. Ada siswa yang mempunyai persepsi yang positif dan adapula siswa yang mempunyai persepsi yang negatif terhadap pembelajaran (Kotler & Keller dalam Pramitasari, dkk, 2011).
Seseorang yang sedang mengalami proses persepsi dituntut untuk aktif yang ditunjukkan oleh prilaku jiwanya dengan penuh perhatian memakai kecakapan inderawinya untuk menyadari adanya rangsangan yang ditangkap. Proses terjadinya persepsi ialah sebagai berikut (Walgito, 2003):
1. Proses kealaman yaitu adanya obyek yang menimbulkan adanya stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor.
2. Proses fisiologi ialah stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh saraf sensorik ke otak.
3. Proses psikologis ialah terjadinya proses di otak sehingga individu sanggup menyadari apa yang diterimanya.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor yang mempengaruhi dalam menafsirkan kesan-kesan indera menjadi suatu persepsi ada tiga faktor, yaitu (Robbins dalam Simbolon, 2008):
1. Faktor dari karakteristik langsung atau pemersepsi seperti: sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan (ekspektasi).
2. Faktor situasional seperti: waktu, keadaan/ daerah kerja dan keadaan sosial.
3. Faktor dalam sasaran seperti: hal-hal yang baru, gerakan, bunyi, suara, ukuran, latar belakang, kedekatan dan kesamaan.
4. Faktor-faktor psikologis seseorang sanggup mempengaruhi bagaimana seseorang itu mempersepsikan serta apa yang beliau persepsikan.
Berikut ini ialah beberapa faktor yang kuat (Wade & Tavris, 2007):
1. Kebutuhan. Ketika seseorang membutuhkan sesuatu, atau mempunyai ketertarikan akan suatu hal, atau menginginkannya, orang itu akan dengan gampang mempersepsikan sesuatu menurut kebutuhan ini.
2. Kepercayaan. Apa yang seseorang anggap sebagai benar sanggup mempengaruhi interpretasi orang itu terhadap sinyal sensorik yang ambigu.
3. Emosi. Emosi sanggup mempengaruhi interpretasi seseorang mengenai suatu isu sensorik.
4. Ekspektasi. Pengalaman masa kemudian sering mempengaruhi cara seseorang mempersepsikan dunia.
Bagi seorang guru, mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip yang bersangkut paut dengan persepsi sangat penting, lantaran makin baik suatu obyek, orang, bencana atau kekerabatan diketahui, makin baik obyek, orang, bencana atau kekerabatan tersebut sanggup diingat. Dalam pengajaran, menghindari salah pengertian merupakan hal yang harus sanggup dilakukan oleh seorang guru, lantaran salah pengertian akan menjadikan siswa mencar ilmu sesuatu yang keliru atau yang tidak relevan dan jikalau dalam mengajarkan sesuatu guru perlu mengganti benda yang bekerjsama dengan gambar atau potret dari benda tersebut, maka guru harus mengetahui bagaimana gambar atau potret tersebut harus dibentuk biar tidak terjadi persepsi yang keliru (Slameto, 2010).
Berikut ini beberapa prinsip dasar wacana persepsi yang perlu diketahui oleh seorang guru biar ia sanggup mengetahui siswanya secara lebih baik dan dengan demikian menjadi komunikator yang efektif (Slameto, 2010):
1. Persepsi itu relatif bukannya absolut
Manusia bukanlah instrumen ilmiah yang bisa menyerap segala sesuatu persis menyerupai keadaan sebenarnya. Sehubungan dengan kerelatifan persepsi, dampak pertama dari suatu perubahan rangsangan dirasakan lebih besar daripada rangsangan yang tiba kemudian. Seseorang akan menggigil kedinginan pertama kali ia terjun ke dalam bak renang. Berdasarkan adanya kenyataan bahwa suatu persepsi itu bersifat relatif maka seorang guru sanggup meramalkan dengan lebih baik persepsi dari siswanya untuk pelajaran berikutnya lantaran guru tersebut telah mengetahui lebih dahulu persepsi yang telah dimiliki oleh siswa dari pelajaran sebelumnya.
2. Persepsi itu selektif
Seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan saja dari banyak rangsangan yang ada di sekelilingnya pada saat-saat tertentu. Ini berarti bahwa rangsangan yang diterima akan tergantung pada apa yang pernah ia pelajari, apa yang pada suatu dikala menarik perhatiannya dan ke arah mana persepsi itu mempunyai kecenderungan. Ini berarti juga bahwa ada keterbatasan dalam kemampuan seseorang untuk mendapatkan rangsangan. Berdasarkan prinsip ini, dalam menawarkan pelajaran seorang guru harus sanggup menentukan bagian pelajaran yang perlu diberi tekanan biar mendapat perhatian dari siswa dan sementara itu harus sanggup menentukan bab pelajaran yang tidak penting sehingga sanggup dihilangkan biar perhatian siswa tidak terpikat pada bab yang tidak penting ini.
3. Persepsi itu mempunyai tatanan
Orang mendapatkan rangsangan tidak dengan cara sembarangan. Ia akan menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika rangsangan yang tiba tidak lengkap, ia akan melengkapinya sendiri sehingga kekerabatan itu menjadi jelas. Bagi seorang guru, prinsip ini menunjukkan bahwa pelajaran yang disampaikan harus tersusun dalam tatanan yang baik. Jika butir-butir pelajaran tidak tersusun baik, siswa akan menyusun sendiri butir-butir pelajaran tersebut dalam kekerabatan atau kelompok yang sanggup dimengerti oleh siswa tersebut dan yang mungkin berbeda dengan yang dikehendaki oleh guru. Hasilnya ialah salah interpretasi atau salah pengertian.
4. Persepsi dipengaruhi oleh impian dan kesiapan dari si penerima pesan
Harapan dan kesiapan peserta pesan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima, selanjutnya bagaimana pesan yang dipilih itu akan ditata dan demikian pula bagaimana pesan tersebut akan diinterpretasi. Dalam proses pembelajaran, guru sanggup menyiapkan siswanya untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya dengan cara memperlihatkan pada pelajaran pertama urutan-urutan kegiatan yang harus dilakukan dalam pelajaran tersebut. Jika hari pertama guru mengajak siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai, maka sanggup dipastikan bahwa pada hari-hari berikutnya siswa akan menanti guru untuk memulai dengan doa sebelum pelajaran dimulai.
5. Persepsi seseorang atau kelompok sanggup jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama
Perbedaan persepsi ini sanggup ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individual, perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam perilaku atau perbedaan dalam motivasi. Bagi seorang guru ini berarti bahwa biar sanggup diperoleh persepsi yang kurang lebih sama dengan persepsi yang dimiliki oleh kelas lain yang telah diberikan materi pelajaran serupa, guru harus memakai materi yang sama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode yang akan bisa menawarkan hasil yang sama pada kelas atau bahkan orang yang berbeda. Sumber http://rijal09.blogspot.com
Persepsi yaitu sekumpulan tindakan mental yang mengatur impuls-impuls sensorik menjadi suatu contoh bermakna. Persepsi merupakan dasar belajar, berpikir, dan bertindak, dan inovasi mengenai proses-proses ini seringkali ditempatkan dalam penggunaan praktis. Sebuah pemahaman mengenai persepsi sanggup juga membantu seseorang berpikir lebih kritis mengenai pengalamannya (Wade & Tavris, 2007).
Persepsi merupakan proses yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Dengan demikian sanggup dikemukakan bahwa persepsi itu merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan acara yang terintegrasi dalam diri individu (Moskowitz dan Ogel dalam Walgito, 2003).
Baca juga:
Persepsi sangat bermacam-macam antara individu satu dengan yang lain yang mengalami realitas yang sama. Seseorang sanggup mempunyai persepsi yang berbeda terhadap objek yang sama. Dengan adanya perbedaan individu maka stimulus yang diterima siswa pada dikala pembelajaran akan dipersepsi berbeda baik secara afeksi maupun kognisi. Ada siswa yang mempunyai persepsi yang positif dan adapula siswa yang mempunyai persepsi yang negatif terhadap pembelajaran (Kotler & Keller dalam Pramitasari, dkk, 2011).
Seseorang yang sedang mengalami proses persepsi dituntut untuk aktif yang ditunjukkan oleh prilaku jiwanya dengan penuh perhatian memakai kecakapan inderawinya untuk menyadari adanya rangsangan yang ditangkap. Proses terjadinya persepsi ialah sebagai berikut (Walgito, 2003):
1. Proses kealaman yaitu adanya obyek yang menimbulkan adanya stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor.
2. Proses fisiologi ialah stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh saraf sensorik ke otak.
3. Proses psikologis ialah terjadinya proses di otak sehingga individu sanggup menyadari apa yang diterimanya.
B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor yang mempengaruhi dalam menafsirkan kesan-kesan indera menjadi suatu persepsi ada tiga faktor, yaitu (Robbins dalam Simbolon, 2008):
1. Faktor dari karakteristik langsung atau pemersepsi seperti: sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan (ekspektasi).
2. Faktor situasional seperti: waktu, keadaan/ daerah kerja dan keadaan sosial.
3. Faktor dalam sasaran seperti: hal-hal yang baru, gerakan, bunyi, suara, ukuran, latar belakang, kedekatan dan kesamaan.
4. Faktor-faktor psikologis seseorang sanggup mempengaruhi bagaimana seseorang itu mempersepsikan serta apa yang beliau persepsikan.
Berikut ini ialah beberapa faktor yang kuat (Wade & Tavris, 2007):
1. Kebutuhan. Ketika seseorang membutuhkan sesuatu, atau mempunyai ketertarikan akan suatu hal, atau menginginkannya, orang itu akan dengan gampang mempersepsikan sesuatu menurut kebutuhan ini.
2. Kepercayaan. Apa yang seseorang anggap sebagai benar sanggup mempengaruhi interpretasi orang itu terhadap sinyal sensorik yang ambigu.
3. Emosi. Emosi sanggup mempengaruhi interpretasi seseorang mengenai suatu isu sensorik.
4. Ekspektasi. Pengalaman masa kemudian sering mempengaruhi cara seseorang mempersepsikan dunia.
Bagi seorang guru, mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip yang bersangkut paut dengan persepsi sangat penting, lantaran makin baik suatu obyek, orang, bencana atau kekerabatan diketahui, makin baik obyek, orang, bencana atau kekerabatan tersebut sanggup diingat. Dalam pengajaran, menghindari salah pengertian merupakan hal yang harus sanggup dilakukan oleh seorang guru, lantaran salah pengertian akan menjadikan siswa mencar ilmu sesuatu yang keliru atau yang tidak relevan dan jikalau dalam mengajarkan sesuatu guru perlu mengganti benda yang bekerjsama dengan gambar atau potret dari benda tersebut, maka guru harus mengetahui bagaimana gambar atau potret tersebut harus dibentuk biar tidak terjadi persepsi yang keliru (Slameto, 2010).
Berikut ini beberapa prinsip dasar wacana persepsi yang perlu diketahui oleh seorang guru biar ia sanggup mengetahui siswanya secara lebih baik dan dengan demikian menjadi komunikator yang efektif (Slameto, 2010):
1. Persepsi itu relatif bukannya absolut
Manusia bukanlah instrumen ilmiah yang bisa menyerap segala sesuatu persis menyerupai keadaan sebenarnya. Sehubungan dengan kerelatifan persepsi, dampak pertama dari suatu perubahan rangsangan dirasakan lebih besar daripada rangsangan yang tiba kemudian. Seseorang akan menggigil kedinginan pertama kali ia terjun ke dalam bak renang. Berdasarkan adanya kenyataan bahwa suatu persepsi itu bersifat relatif maka seorang guru sanggup meramalkan dengan lebih baik persepsi dari siswanya untuk pelajaran berikutnya lantaran guru tersebut telah mengetahui lebih dahulu persepsi yang telah dimiliki oleh siswa dari pelajaran sebelumnya.
2. Persepsi itu selektif
Seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan saja dari banyak rangsangan yang ada di sekelilingnya pada saat-saat tertentu. Ini berarti bahwa rangsangan yang diterima akan tergantung pada apa yang pernah ia pelajari, apa yang pada suatu dikala menarik perhatiannya dan ke arah mana persepsi itu mempunyai kecenderungan. Ini berarti juga bahwa ada keterbatasan dalam kemampuan seseorang untuk mendapatkan rangsangan. Berdasarkan prinsip ini, dalam menawarkan pelajaran seorang guru harus sanggup menentukan bagian pelajaran yang perlu diberi tekanan biar mendapat perhatian dari siswa dan sementara itu harus sanggup menentukan bab pelajaran yang tidak penting sehingga sanggup dihilangkan biar perhatian siswa tidak terpikat pada bab yang tidak penting ini.
3. Persepsi itu mempunyai tatanan
Orang mendapatkan rangsangan tidak dengan cara sembarangan. Ia akan menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika rangsangan yang tiba tidak lengkap, ia akan melengkapinya sendiri sehingga kekerabatan itu menjadi jelas. Bagi seorang guru, prinsip ini menunjukkan bahwa pelajaran yang disampaikan harus tersusun dalam tatanan yang baik. Jika butir-butir pelajaran tidak tersusun baik, siswa akan menyusun sendiri butir-butir pelajaran tersebut dalam kekerabatan atau kelompok yang sanggup dimengerti oleh siswa tersebut dan yang mungkin berbeda dengan yang dikehendaki oleh guru. Hasilnya ialah salah interpretasi atau salah pengertian.
4. Persepsi dipengaruhi oleh impian dan kesiapan dari si penerima pesan
Harapan dan kesiapan peserta pesan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima, selanjutnya bagaimana pesan yang dipilih itu akan ditata dan demikian pula bagaimana pesan tersebut akan diinterpretasi. Dalam proses pembelajaran, guru sanggup menyiapkan siswanya untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya dengan cara memperlihatkan pada pelajaran pertama urutan-urutan kegiatan yang harus dilakukan dalam pelajaran tersebut. Jika hari pertama guru mengajak siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai, maka sanggup dipastikan bahwa pada hari-hari berikutnya siswa akan menanti guru untuk memulai dengan doa sebelum pelajaran dimulai.
5. Persepsi seseorang atau kelompok sanggup jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama
Perbedaan persepsi ini sanggup ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individual, perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam perilaku atau perbedaan dalam motivasi. Bagi seorang guru ini berarti bahwa biar sanggup diperoleh persepsi yang kurang lebih sama dengan persepsi yang dimiliki oleh kelas lain yang telah diberikan materi pelajaran serupa, guru harus memakai materi yang sama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun metode yang akan bisa menawarkan hasil yang sama pada kelas atau bahkan orang yang berbeda. Sumber http://rijal09.blogspot.com
0 Response to "Pengertian Persepsi"
Posting Komentar