Perlukah Kita Gembira Dengan Kecerdasan Anak?
Setiap orang renta niscaya berharap punya bawah umur yang pintar.
Sumber http://selalusiapbelajar.blogspot.com
Anak yang arif menjadi pujian orangtua
Anak arif diasumsikan dengan masa depan yang cerah
Praktis masuk ke sekolah favorit
Praktis mencari kerja
dan kemudahan-kemudahan lainnya.
Benarkah demikian?
Belum tentu juga begitu.
Kecerdasan ialah anugrah dari Sang Maha Pencipta. Memiliki anak cerdas memang jadi dambaan hampir semua orangtua. Namun sayangnya tidak banyak anak yang diberi anugrah itu. Nah, bagaimana jikalau ternyata anak kita ialah anak yang biasa-biasa saja di sekolah? Apakah harus khawatir dengan masa depannya?
Untuk menjawabnya, ikuti dongeng sahabat saya di bawah ini.
Teman saya ialah anak yang dikarunia kecerdasan itu. Meskipun tidak termasuk jenius, tapi kecerdasan saya berada di atas rata-rata. Ketika sekolah di SD, Ia tak pernah menerima ranking di bawah 3. Kalau tidak 1 ya 2 dan seringnya ranking 2 sebab ranking satunya temannya yang perempuan.
Di Sekolah Menengah Pertama juga begitu, ranking saya berkisar di angka 1, 2 atau 3. Di SLTA peringkat Dia juga masih bagus. Pokoknya dari semenjak SD hingga SLTA peringkat Dia disekolah selalu masuk 3 besar.
Selepas SLTA Dia melanjutkan kuliah. Dia kuliah di satu universitas keguruan di Kota B. Hanya sayang, kuliahnya tidak tamat. Ia DO di semester 3 jikalau tidak salah.
Selepas keluar kuliah, Ia ikut dengan orangtuanya bekerja serabutan di kampung. Ia ialah orang yang cerdas namun mempunyai kekurangan, yaitu kurang percaya diri. Ketika teman-teman lain pergi merantau ke kota, Ia tetap di kampung mengikuti orangtua.
Kembali lagi ke tema di atas wacana kecerdasan. Ternyata kecerdasan bukanlah satu-satunya tiket untuk meraih keberhasilan. Ada banyak faktor lain yang berpengaruh. Teman-teman seangkatan sahabat saya, baik di SD, Sekolah Menengah Pertama maupun SLTA yang prestasi di kelasnya biasa-biasa saja, kini banyak yang kehidupannya lebih dari Dia. Ada yang menjadi pengusaha, anggota dewan, eksekutif perusahaan dan lain-lain.
Kesimpulannya, kecerdasan bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Bila anak kita kurang cerdas jangan memaksakan diri biar anak cerdas dengan cara memaksa anak berguru di luar kemampuannya.
Carilah sisi kelebihan anak dan kembangkan kelebihan itu.
Sistem pendidikan kini tidak lagi memandang anak dari sisi kecerdasannya. Sudah tidak ada lagi sistem peringkat kelas di dalam Rapor anak, meskipun kadangkala guru melakukannya demi memenuhi cita-cita orangtua yang masih terobsesi oleh rangking anaknya.
0 Response to "Perlukah Kita Gembira Dengan Kecerdasan Anak?"
Posting Komentar